Nyoman Parta

Parade Ngelawar Se-Bali: I Nyoman Parta Angkat Martabat Lawar Nusantara dari Guwang

Newsyess.com, Gianyar. 

Gianyar | Newsyess.com – 29 Juni 2025 — Di tengah semarak Bulan Bung Karno, semangat kebangsaan tak hanya terpancar lewat orasi atau seni pertunjukan, tetapi juga lewat rasa lewat dapur dan cita rasa kuliner warisan leluhur. Bertempat di Wantilan Pura Dalem, Desa Adat Guwang, digelar Parade Ngelawar Se-Bali dengan Resep Nusantara, sebuah inisiatif unik yang digagas oleh I Nyoman Parta, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali.

Parade ini bukan sekadar perlombaan masak. Ia adalah manifestasi dari cinta pada kekayaan budaya kuliner Bali, khususnya lawar makanan tradisional yang tak hanya menggugah selera, tapi juga sarat makna sosial, spiritual, dan historis.

“Hari ini kita bukan sedang berlomba mencari yang terenak. Kita sedang belajar mengenal kembali akar budaya kita, mengenal lawar sebagai pusaka rasa yang beragam, unik, dan patut kita jaga bersama,” ungkap Nyoman Parta di hadapan ratusan peserta dan penonton.

Lawar: Simfoni Rasa dari Ujung Bali Hingga Tengah Nusantara

Di parade ini, 47 kelompok dari 9 kabupaten/kota di Bali turut berpartisipasi, masing-masing membawa ragam lawar khas daerahnya, lengkap dengan ramuan bumbu, bahan utama, dan filosofi unik di balik proses pembuatannya.

Ada lawar berbahan dasar bungkil Embung, nangka, daun tunga, hingga yang memanfaatkan buah sukun sebagai campuran. Di sisi bumbu, variasi pun tak kalah memukau dari bumbu khas Karangasem hingga cita rasa khas Buleleng, setiap daerah tampil dengan jati diri rasa masing-masing.

Uniknya, meski sebagian besar berbahan dasar “daging babi”, teknik pengolahan pun bervariasi. Ada yang masih mempertahankan cara lawas dengan lawar babi mentah, seperti di Banjar tewel, Guwang dan Batuyang, sementara di daerah lain daging direbus lebih dahulu.

“Semua adalah war, semua adalah lawar. Yang membedakan adalah cerminnya, bumbunya, teknik memasaknya, dan rasa lokal yang melekat di tangan pembuatnya,” jelas Nyoman Parta.

Mengapa Tidak Dilombakan Secara Teknis?

Karena perbedaan bahan, teknik, dan rasa yang sangat luas, acara ini tidak digelar dalam bentuk lomba ketat. Sebaliknya, panitia memilih untuk menetapkan kategori “Juara Favorit”, di mana penilaian dilakukan secara subyektif oleh undangan dan penonton yang mencicipi langsung, sesuai selera masing-masing.

“Kalau kita lombakan secara ketat, bagaimana menilainya? Ini bukan capcay yang bahannya sama. Lawar adalah soal rasa dan cerita, bukan sekadar resep,” lanjutnya.

Misi Budaya: Cinta Kuliner, Jaga Kearifan Lokal

Melalui parade ngelawar ini, I Nyoman Parta menegaskan tiga tujuan utama:

1. Mengangkat kembali citra lawar sebagai warisan kuliner Bali yang bernilai budaya tinggi.
2. Mendorong konservasi tanaman lokal yang menjadi bahan utama lawar, seperti kelapa, pepaya, sukun, dan rempah-rempah khas Bali.
3. Memulihkan dan memuliakan citra daging babi sebagai bagian integral dari kuliner dan kehidupan adat masyarakat Bali.

“Kalau kita ingin ngelawar, maka kita harus punya bahan. Kalau ingin punya bahan, maka kita harus menanam. Ini pesan konservasi yang tersirat bahwa menjaga lawar, juga berarti menjaga tanah dan hasil bumi Bali,” tegasnya.

Langkah Awal Menuju Festival Kuliner Berkelanjutan

Parade ini, menurut Nyoman Parta, adalah langkah awal. Ia membuka peluang agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan bergilir di seluruh wilayah Gianyar, bahkan lebih luas lagi ke tingkat provinsi. Ia juga mendorong komunitas-komunitas lokal untuk terlibat aktif melestarikan lawar sebagai kekayaan kuliner dan identitas Bali.

“Lawar bukan sekadar makanan. Ia adalah ekspresi budaya, simbol keberkahan, dan tali yang menyambung antara generasi tua dan muda. Jangan sampai ia hilang dari meja makan kita,” pungkasnya.

 

https://www.newsyess.com/read/parade-ngelawar-se-bali-i-nyoman-parta-angkat-martabat-lawar-nusantara-dari-guwang

YouTube

NYOMAN PARTA SH

FACEBOOK

INSTAGRAM

Penulis

Teman Parta

Teman Parta